Pembelajaran Bahasa Inggris
Di SD Kelas Rendah
Oleh: EHB
Sejak kemerdekaan bahasa Inggris sudah diajarkan dan masuk kurikulum sekolah dasar. Dalam rentang waktu sampai dengan sekarang, Pembelajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar masih menjadi muatan lokal. Hal tersebut dikarenakan banyak kalangan yang tidak menyetujui pembelajaran bahasa Inggris di level sekolah dasar atau taman kanak-kanak dengan berbagai alasan.
Alasan yang dikemukakan sebagian besar memang mengandung kebenaran, tetapi tuntutan masyarakat yang menghendaki bahasa Inggris masuk dalam kurikulum sekolah dasar tidak bisa diabaikan karena adapula kalangan yang mendukung hal tersebut. Dikarenakan pentingnya penggunaan bahasa Inggris dalam pergaulan dunia. Maka kebijakan bahasa Inggris harus tetap diperkenalkan dimulai dari sekolah dasar.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Inggris. Adapun prinsip dasar pembelajaran Bahasa Inggris di SD, adalah sebagai berikut:
Kemampuan memahami sekitar
Penggunaan permainan dan gerak fisik
Pembelajaran secara tidak langsung (indirect Learning)
Pengembangan imajinasi
Pengaktifan seluruh indera
Kegiatan pembelajaran yang berganti-ganti setiap waktu
Perlunya penguatan melalui pengulangan
Perlunya pendekatan kepada siswa secara individu
Pembelajaran pada anak-anak yang efektif sebaiknya mengingatkan terjadinya pemerolehan bahasa (Language Acquisition) bukannya pembelajaran bahasa (Languange Learning). Mekanisme pemerolehan bahasa ini dilakukan dengan cara memberikan limpahan kesempatan untuk menggunakan bahasa sebagai alat untuk menciptakan makna dan berbagi makna dan dengan memberikan penguat (scaffolding) untuk membantu anak-anak berfungsi secara komunikatif dalam waktu pertumbuhannya. Oleh karena itu pengajaran dan pembelajaran yang efektif mesti melibatkan komunikasi alami antara siswa dan guru, antara siswa dan siswa dan juga berbasis kegiatan yang berupa kegiatan belajar. Pembelajaran yang efektif juga harus memberikan limpahan cara cara bagi siswa untuk bisa menggunakan bahasa yang sesuai dengan usianya.
Anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa mini. Mereka bukan orang dewasa seperti kita. Anak-anak memiliki karakter, aspirasi kebutuhan dan kemauan yang berada dengan orang dewasa dan hal tersebut adalah sesuatu yang alamiah.
Maka berdasarkan kondisi tersebut, Implikasi Landasan dan Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Inggris di SD, maka sebaiknya pembelajaran dilaksanakan berbasis prinsip-prinsip berikut:
Guru harus menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan serta memberikan posisi pada siswa untuk aktif.
Guru harus bisa membantu siswa mengembangkan serta melatih menggunakan bahasa melalui serangkaian kerjasama.
Guru harus bisa menggunakan kegiatan belajar yang terencana,terorganisir, berdimensi banyak dan dikembangkan berbasis tema.
Guru harus bisa memberikan input pembelajaran yang bermakna dengan tindakan yang mendukung pembelajaran (Scaffolding).
Guru harus bisa membuat pelajaran bahasa Inggris dan pelajaran bahasa Indonesia serta budayannya yang saling melengkapi dan menguatkan.
Guru harus bisa mengintegrasikan bahasa Inggris dengan pengetahuan lain yang sesuai dengan usia siswa.
Guru harus memberikan pemahaman tentang tujuan pembelajaran yang sedang berlangsung dengan jelas dan apabila siswa telah menunjukkan keberhasilannya, guru perlu memberikan umpan balik yang memadai.
Agar lebih mudah mengingat prinsip-prinsip tersebut, dengan adanya 7R yang dikemukakan oleh Read (2005), yaitu: Relationship, Rules, Routines, Rights, Responsibilities, Respect dan Rewards. (baca selengkapnya di rahayugita.blogspot.com)
Struktur Kurikulum dan Standart Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Struktur Kurikulum dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris mengacu pada Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Dimana Mata Pelajaran Bahasa Inggris berkedudukan hanya sebagai Muatan Lokal.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris adalah progam untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan bahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Inggris.
Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris di SD terdiri dari aspek: listening, speaking, reading, dan writing.
Hakikat Pembelajaran Bahasa Inggris
Sebagai muatan lokal, bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang dipelajari setelah bahasa ibu. Dengan kata lain, pengaplikasian serta alokasi waktu yang diberikan ditingkat sekolah dasar tidak akan melebihi pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Kemudian, bahasa Indonesia itu sendiri tetap digunakan sebagai bahasa pengantar pada mata pelajaran lain kecuali pada sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Melalui sejumlah pengamatan, secara umum, peserta didik di kelas 1-3 terlihat antusias terhadap pembelajaran bahasa Inggris selama pembelajaran tersebut tidak keluar dari patokan yang diberikan di dalam Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, yakni memberikan materi sesuai tingkat literasi performative. Kenyataannya, tes sering menjadi tujuan utama dalam pembelajaran bahasa Inggris serta banyak guru yang mengutamakan tes dalam proses pembelajaran. Guru juga sering terjebak dan terpaku pada buku bahasa Inggris dari penerbit, sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris seringkali melenceng dari tujuan semula. Selain itu, seharusnya pembelajaran lebih ditekankan pada kosakata yang beragam sesuai dengan konteks kelas dan sekolah dan bukan melulu tentang grammar atau structure, sesuai dengan pendapat Sekretaris Jendral Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti (Kompas.com, 13/11/2012). (baca selengkapnya di ratnamizan.blogspot.com)
Materi Pembelajaran Bahasa Inggris
Materi bahasa inggris sekolah dasar haruslah mencakup semua aspek skill bahasa Inggris, mulai dari reading, speaking, listening, dan writing. Hal ini bertujuan agar para siswa sekolah dasar mampu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka secara keseluruhan. Namun semua materi yang disampaikan sebaiknya merupakan materi dasar yang memang dibuat khusus untuk siswa sekolah dasar.
Secara umum materi bahasa Inggris untuk sekolah dasar mungkin sangat mudah dibuat, namun dalam penyampaiannya, justru materi bahasa Inggris sekolah dasar adalah yang paling sulit diimplementasikan. Oleh karena itu para pengajar bahasa Inggris tak hanya dituntut untuk pitar dalam menyusun materi, tapi juga harus jenius dalam menyampaikan materi kepada anak-anak.
Materi bahasa inggris sekolah dasar yang sudah berjalan saat ini memang memang fokus penekanannya kepada penguasaan vocabulary. Hal ini tentunya tidaklah sama sekali salah, akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dalam mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar, yaitu pendekatan pengajaran yang komunikatif.
Dengan cara membiasakan penyampaian materi dengan menggunakan bahasa Inggris dalam setiap kesempatan, meskipun kata-kata tersebut sulit disampaikan secara verbal, tapi Anda bisa menggunakan metode visual ataupun gerak tubuh. Karena penyampaian materi bahasa Inggris yang komunikatif akan mendorong anak untuk menggunakan Bahasa Inggris secara nyata di dalamkelas. Hal ini tentunya akan memberikan pengalaman dan pembelajaran bahasa Inggris, yang memang tujuan utamanya kita dapat menerapkannya untuk tujuan komunikasi.
Pendekatan Pembelajaran Bahasa Inggris
Pembelajaran Bahasa Inggris pada jenjang pendidikan SD identik dengan mengajari seorang bayi bahasa ibu. Dimana secara umum anak-anak kita di sekolah dasar belum mengenal Bahasa Inggris . Sehingga hal itu akan berdampak pada pola pengajaran Bahasa Inggris pada tingkat SD yang lebih bersifat pengenalan. Sehingga diusahakan sedapat mungkin agar tercapai apa yang disebut “kesan pertama sangat mengesankan’ yang selanjutnya sebagai motivasi bagi mereka untuk mengeksplorasi khasanah berbahasa inggris pada tataran lebih lanjut. Maka dari itu diperlukan kiat-kiat khusus berupa penerapan metode-metode pembelajaran yang inovatif.
Awalnya pembelajaran Bahasa Inggris di negara asalnya sendiri yaitu Inggris dan beberapa negara pengguna Bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya seperti Australia, New Zaeland, Kanada dan Amerika Serikat mengajarkan bahasa secara terpisah-pisah. Sejak sekitar tahun 1980-an mulai menerapkan pendekatan whole language pada pembelajaran bahasa ( Routman, 1991). Whole language adalah pendekatan pengajaran bahasa secara utuh tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991 ; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weaver , 1992) . Pendekatan whole language didasari oleh paham kontruktifisme yang menyatakan bahwa anak dapat mengkonstruksikan sendiri strutur kognitifnya berdasarkan pengalaman yang didapatkannya melalui peran aktif dalam belajar secara utuh (whole) dan (integrated) terpadu. (Robert, 1996).
Komponen whole language adalah (1) Reading alloud, yaitu kegiatan membaca yang dilakukan guru kepada siswanya. (2) Jurnal writing yaitu suatu kegiatan menulis jurnal yang memberikan siswa mencurahkan perasaannya tentang kegiatan belajar dan hal ikwal yang ada hubungannya dengan pembelajaran serta sekolah dalam bentuk tulisan.
(3) Sustained silent reading, yaitu kegiatan membaca dalam hati. (4) Guided reading, yaitu kegiatan membaca terbimbing, (5) Guded Writing, yaitu kegiatan pembelajaran menulis terbimbing, (6) Independen reading, yaitu kegiatan membaca bebas sesuai bacaan yang siswa gemari. (7) Independent writing yaitu kegiatan menulis bebas sehingga siswa dapat berfikir kritis dalam menganalisa obyek atau hal yang ia tulis.
(3) Sustained silent reading, yaitu kegiatan membaca dalam hati. (4) Guided reading, yaitu kegiatan membaca terbimbing, (5) Guded Writing, yaitu kegiatan pembelajaran menulis terbimbing, (6) Independen reading, yaitu kegiatan membaca bebas sesuai bacaan yang siswa gemari. (7) Independent writing yaitu kegiatan menulis bebas sehingga siswa dapat berfikir kritis dalam menganalisa obyek atau hal yang ia tulis.
Kelas yang menerapkan pembelajaran berbasiskan whole language adalah merupakan kelas yang kaya akan barang cetak, seperti buku, majalah, koran, dan buku petunjuk. Di samping itu kelas whole language dilengkapi dengan sudut-sudut yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan secara mandiri. Strategi penilaian yang guru dapat lakukan dalam hal ini adalah melalui penilaian proses dan fortofolio.
Sementara menurut David Nunan (1989) dalam Solchan T.W., dkk (2001:66) pembelajaran bahasa hendak dibelajarkan menggunakan pendekatan komunikatif. Dimana pendekatan komunikatif berdasarkan teori bahasa adalah suatu sistem untuk mengekspresikan suatu makna, yang menekankan fasa dimensi semantik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karna itu yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa ke dua secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara alamiah sehingga proses belajar bahasa lebih efektif dilakukan melalui komunikasi langsung dalam bahasa yang dipelajari. Kebutuhan siswa yang utama dalam belajar bahasa berkaitan dengan kebutuhan berkomunikasi maka tujuan umum pembelajaran bahasa adalah untuk mengembangkan siswa untuk berkomunikasi. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan komunikatif siswa dihadapkan pada situasi komunikasi nyata , seperti tukar menukar informasi, negoisasi makna atau kegiatan lain yang sifatnya riil.
Dalam pendekatan komunikatif peran guru hanya bersifat memfasilitasi proses komunikasi , partisipan tugas dan teks, menganalisa kebutuhan, konselor dan manajer pembelajaran. Sementara siswa berposisi pada pemberi dan penerima, negosiator, dan interaktor sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk-bentuk bahasa, tetapi bentuk dan maknanya dalam kaitannya dengan konteks pemakaian. Materi yang disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata.
Menurut pendekatan komunikatif metode yang tepat diterapkan adalah metode komunikatif itu sendiri dengan uraian teknik seperti yang diuaraikan dalam Santosa, dkk yang dipetik dari Tarigan yang disarikan dari Solchan, dkk. (2001) berikut ini, (1) teknik pelajaran menyimak, (2) teknik pembelajaran berbicara, (3) teknik pembelajaran membaca, (4) teknik pembelajaran menulis. Sementara teknik evaluasi untuk pendekatan ini adalah tes diskrit yaitu tes yang bersifat terpisah antar aspek kebahasaan, tes integratif yaitu tes yang memadukan semua aspek kebahasaan pada suatu tes evaluasi yang bersifat tercampur. Yang terakhir adalah tes pragmatik yaitu kemampuan siswa dalam menggunakan elemen-elemen kebahasaan dalam konteks situasional tertentu sebagai tolak ukurnya. Beberapa jenis tes pragmatis adalah, dikte, berbicara, parafrase, menjawab pertanyaan, dan teknik rumpang.
Pendekatan yang lain yang sering dianjurkan untuk diterapkan adalah pendekatan ketrampilan proses. Dimana pendekatan ketrampilan proses diidentifikasi sebagai pendekatan yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan bahasa. Kalau dibandingkan dengan pendekatan whole language dan pendekatan komunikatif maka pendekatan ketrampilan proses adalah dijiwai oleh dua pendekatan tersebut. Demikian halnya dengan pendekatan CBSA yang pernah populer di era tahun 1980-an juga merupakan cerminan dari dua pendekatan sebelumnya. Sampai kepada pendekatan pakem dan yang terakhir adalah pendekatan quantum teaching.
Metode dan Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris
Metode pembelajaran bahasa inggris memainkan peranan yang sangat penting di dalam kegiatan belajar bahasa Inggris. Ada banyak siswa yang mampu mencapai prestasi baik karena diajarkan menggunakan metode pembelajaran bahasa inggris yang tepat. Sebaliknya, kebanyakan siswa merasa bosan dan enggan belajar bahasa Inggris karena metode yang ada begitu membosankan.
Sebuah metode pembelajaran bahasa Inggris merupakan kunci dalam pembelajaran. Apabila seorang guru menerapkan metode yang kurang tepat serta membosankan, maka habislah sudah kelas tersebut. Rata-rata, siswa akan cenderung bosan dan tidak menyukai kelas bahasa Inggris yang berlansung selama hampir dua jam. Metode belajar bahasa inggris apakah yang wajib diketahui oleh seorang guru? Di bawah ini, kami memberikan informasi mengenai 4 metode belajar yang wajib untuk diketahui.
1. Grammar Translation Method
Metode ini biasa disingkat dengan GTM. Adalah sebuah metode yang paling lama ada di dunia pembelajaran sebuah bahasa asing. Indonesia sendiri, masih menggunakan metode GTM dari sejak pengajaran bahasa Inggris terjadi hingga saat ini. Apa sebenarnya GTM?
Ini merupakan metode dimana grammar atau tata bahasa lebih ditekankan. Selain tata bahasa, juga terdapat translate atau alih bahasa yang paling sering digunakan untuk mengajarkan kosakata. Guru akan mengajarkan materi tentang tata bahasa menggunakan rumus, dan kemudian menggunakan alih bahasa ketika memberikan pengajaran membaca, menulis, serta kosakata dalam bahasa Inggris.
2. Audio Lingual Method
Audio Lingual Method adalah sebuah metode pembelajaran bahasa Inggris dimana guru mempraktikkan sebuah dialog pendek yang satupun artinya belum dapat diterjemahkan oleh siswa. Guru memberikan instruksi kepada siswa untuk mengikuti dialog tersebut dan siswa menebak maksud dialog dari mimik, pose dialog, dan beragam hal yang dipraktikkan oleh seorang guru.
Siswa diajak menghafal dialog yang bahkan mereka tidak mengetahui tulisan dan arti secara jelas. Mereka dipaksa berpikir untuk mengerti isi dialog dan menghafalnya dalam waktu singkat tanpa boleh membaca atau menulisnya. Setelah siswa menghafal, maka barulah mereka diberikan kata-kata yang ada di dalam dialog tersebut. Siswa membaca, kemudian mereka menulisnya.
Metode ini dipercaya ampuh untuk membuat siswa belajar bahasa Inggris dengan cepat. Mereka diajarkan sebuah bahasa layaknya masa bayi dahulu. Karena bahasa diajarkan melalui mendengar dialog tanpa arti dan mereka mengetehui maksudnya hanya dari mimik wajah, pose dialog, serta gesture. Setelah mendengar, siswa diajak untuk berbicara dan menghafal dengan bekal mengetahui maksud kata tersebut tetapi tanpa arti yang jelas secara detail. Kemudian, kegiatan membaca dan menulis baru dilakukan setelah siswa mendengar serta berbicara.
3. Silent Way
Silent Way sejatinya digunakan oleh Celeb Cattegno untuk mengajarkan matematika. Namun, dewasa ini metode pembelajaran bahasa inggris bernama silent way merupakan metode yang powerful apabila diterapkan pada pembelajaran bahasa Inggris.
Silent way adalah metode yang menggunakan rods atau batang sebagai medianya. Rods mempunyai warna dan panjang yang berbeda. Dengan rods, seorang guru mengajarkan banyak hal terutama mengenai berbicara dan tata bahasa dalam bahasa Inggris.
Metode ini secara garis besar mempunyai konsep yang sama dengan audi lingual method. Siswa diajak untuk mendengar, berbicara, membaca, dan baru menulis. Ada satu hal menarik dimana siswa juga diajak untuk membangun sense atau inner criteria yang membuat mereka mampu mendeteksi serta memperbaiki diri apabila terdapat kesalahan dalam menggunakan bahasa Inggris.
4. Total Physical Response
Awal mulanya guru melakukan beberapa pekerjaan misalnya berjalan, duduk, memegang telinga, menaruh penggaris, atau menulis. Namun sebelum guru melaksanakan semua pekerjaan tersebut, ia memerintah dirinya terlebih dahulu dengan instruksi bahasa Inggris.
Setelah beberapa kali pengulangan melalui perintah yang dilakukan dan dilaksanakan oleh dirinya sendiri, pada tahap selanjutnya guru memberikan perintah kepada siswa dengan perintah yang sama dengan dirinya tadi. Melalui perintah tersebut, siswa diharapkan mampu melaksanakan sesuai dengan perintah dan contoh yang tadi diberikan. Tentu saja, guru tidak melaksanakan perintah tersebut dan ia hanya memberikan koreksi.
Evaluasi Pembelajaran Bahasa Inggris
Setiap kegiatan pembelajaran memerlukan kegiatan evaluasi untuk mengukur sejauh mana efektifitas pembelajaran telah dapat diselenggarakan. Tentunya hal tersebut memerlukan acuan penilaian yang dijadikan tuntunan pemberian skor secara kuantitatif sebelum disimpulkan secara evaluatif. Dalam skenario pembelajaran acuan umum yang dipakai adalah indikator yang dijabarkan dalam bentuk tujuan pembelajaran.
Begitu pentingnya kegiatan evaluasi pembelajaran sehingga setiap kegiatan pembelajaran mempersaratkan keberadaan perangkat evaluasi. Rusyan (1993:211), dalam buku Proses Belajar Mengajar Yang Efektif menyatakan evaluasi dalam suatu proses belajar mengajar merupakan komponen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses. Kepentingan evaluasi tidak hanya mempunyai makna bagi proses belajar peserta didik, tetapi juga memberikan umpan balik terhadap program secara keseluruhan. Inti dari evaluasi adalah pengadaaan informasi bagi pihak pengelola proses belajar mengajar untuk membuat macam – macam keputusan dengan menggunakan informasi yang diperolehnya melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instumen tes maupun non tes. Sedangkan penilaian adalah usaha mengumpulkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Bentuk evaluasi itu ada berbentuk tes dan non tes. Kedua bentuk itu dapat digunakan salah satu atau kedua – duanya tergantung tujuan dari penilaian pembelajaran. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris evaluasi dapat diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana indikator ketrampilan berbahasa sudah dapat dikuasai oleh siswa. Evaluasi yang paling relevan adalah menggunakan lembar tes perfomance yang akan mengukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap aspek kebahasaan yaitu, mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis. Tampilan tes perfomance tersebut dapat berupa diskrit, yang menampilkan bagian demi bagian aspek kebahasaan tersebut. Dapat juga berupa tes integratif dan fragmatik. Yang terpenting dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan indikator yang ditargetkan dengan menggunakan alat ukur berupa evaluasi yang relevan. Tentunya dengan mempertimbangkan prosedur pembuatan alat ukur evaluasi tersebut.
Sumber:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar